“Kalau kawasan itu bisa dimanfaatkan sebagai ruang pertunjukan seni outdoor, tentu akan menjadi magnet wisata yang berdampak pada peningkatan ekonomi kawasan secara luas,” ujarnya.
Tak hanya itu, Diky turut mendorong pemanfaatan Pendopo sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah Kesukapuraan. Konsep yang ditawarkan berupa semi museum atau mini diorama yang menampilkan perjalanan sejarah Tasikmalaya.
Menurutnya, diorama memiliki nilai strategis karena tidak hanya berpotensi menjadi sumber PAD baru. Tetapi juga sarana edukasi yang efektif bagi generasi muda.
“Diorama bisa mengenalkan sejarah Kota Tasikmalaya, Priangan. Bahkan Jawa Barat secara visual dan menarik sehingga lebih mudah dipahami masyarakat,” kata Diky.
Ia mengaku prihatin karena masih banyak generasi muda yang belum mengenal sejarah dan tokoh penting daerahnya sendiri.
“Banyak yang tidak tahu apa itu Bestong. Bahkan ada tokoh perempuan asal Tasikmalaya yang lahir sebelum R.A. Kartini, memperjuangkan hak-hak perempuan dan menulis buku yang sangat sukses pada masanya, tetapi namanya belum banyak dikenal,” ungkapnya.
Melalui pengembangan diorama, destinasi sejarah, dan wisata budaya, Diky berharap identitas serta kebanggaan masyarakat terhadap sejarah Tasikmalaya dapat kembali tumbuh. Di sisi lain, langkah tersebut diharapkan mampu menghadirkan sumber pendapatan baru sekaligus menggerakkan ekonomi daerah di tengah tantangan fiskal yang masih dihadapi pemerintah.







Comment