“Kalau limbahnya tidak diproses sesuai SOP, ini jelas berbahaya. Bisa mencemari lingkungan, bahkan merembes ke sumur warga karena jaraknya sangat dekat,” tambahnya.
Kecurigaan warga semakin menguat ketika area pembangunan IPAL yang sebelumnya terbuka tiba-tiba ditutup rapat menggunakan papan dan besi. Warga menduga ada upaya menutup proses pembangunan dari pengawasan publik.
Selain persoalan limbah, warga juga mengkhawatirkan dampak lalu lintas. Jalan Cikalang Girang yang relatif sempit dinilai tidak akan mampu menampung mobilitas kendaraan besar apabila dapur tersebut mulai beroperasi.
Rekrutmen dulu Izin Belakangan
Kekecewaan warga bertambah setelah muncul informasi rekrutmen tenaga kerja atau relawan SPPG, sementara perizinan diduga belum ditempuh. Warga juga menilai kurangnya pelibatan masyarakat setempat dalam proses tersebut.
Hingga kini, pihak pengelola belum memberikan klarifikasi resmi. Bangunan yang terpasang spanduk “Badan Gizi Nasional” itu tampak tertutup rapat tanpa aktivitas yang dapat diakses publik.
Warga menegaskan tidak menolak program pemerintah. Namun, mereka menuntut transparansi, kepatuhan terhadap aturan, serta jaminan bahwa lingkungan mereka tidak terdampak negatif.
“Pada dasarnya kami tidak keberatan dengan program pemerintah, tapi pengelola di lapangan juga harus memahami etika di lingkungan. Jika berpotensi membahayakan, tentu kami akan bertindak,” pungkasnya.(iqbal)

Comment