Berita Tasikmalaya, tasik.id – Raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk ke-10 kalinya secara berturut-turut yang diterima Pemerintah Kota Tasikmalaya mendapat apresiasi sekaligus catatan kritis dari kalangan pemuda.
Ketua Generasi Muda NU (GMNU) Kota Tasikmalaya yang juga Sekretaris Umum PC IKA PMII Kota Tasikmalaya, Myftah Farid, S.IP, menilai capaian tersebut menunjukkan tata kelola administrasi dan pelaporan keuangan pemerintah daerah berjalan sesuai aturan. Namun menurutnya, penghargaan tersebut tidak serta-merta mencerminkan keberhasilan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“WTP memang prestasi yang patut diapresiasi. Tetapi perlu dipahami bahwa WTP adalah rapor pembukuan, bukan rapor kesejahteraan rakyat,” ujar Myftah Farid.
Ia menjelaskan, opini WTP yang diberikan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada dasarnya menilai kewajaran penyajian laporan keuangan pemerintah daerah. Dengan kata lain, penghargaan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan dan pencatatan keuangan telah sesuai dengan standar yang berlaku.
Namun, kata Myftah, terdapat sejumlah persoalan mendasar yang masih dirasakan masyarakat Kota Tasikmalaya.
Kemiskinan Masih Menjadi Tantangan
Menurutnya, salah satu kontras yang terlihat adalah antara capaian WTP dengan kondisi kemiskinan yang masih menjadi tantangan serius di Kota Tasikmalaya.
“Selama satu dekade laporan keuangan mendapat penilaian baik, tetapi persoalan kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan secara optimal,” katanya.
Tata Kota dan Infrastruktur Disorot
Selain itu, ia menyoroti berbagai persoalan perkotaan yang masih sering dikeluhkan warga, mulai dari kondisi sejumlah jalan lingkungan yang rusak, penanganan sampah yang belum maksimal, hingga persoalan genangan dan banjir saat intensitas hujan tinggi.
Ia juga menyinggung penataan kawasan perdagangan dan pedagang kaki lima yang menurutnya masih membutuhkan perhatian lebih agar wajah kota menjadi lebih tertata.







Comment