“Jadi kami bukan hanya ingin menumbuhkan yang eksklusif, tetapi Siloka ingin menjadi kedai yang inklusif. Tidak hanya menggandeng KOL yang sudah profesional, tetapi juga teman-teman KOL yang baru tumbuh,” tutur Ruzaina.
Ia menambahkan, konsep kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat bagi Siloka sekaligus para KOL dan influencer.
“Buat kami ada benefit, dan buat KOL-nya juga ada benefit. Jadi bisa sama-sama berkolaborasi dengan Siloka,” ujarnya.
Dari Tasikmalaya, Siloka Ingin Tumbuh ke Seluruh Indonesia
Lebih jauh, Siloka Grup menargetkan konsep inklusivitas tersebut tidak hanya berkembang di Kota Tasikmalaya.
Siloka ingin membawa semangat kolaborasi dari Tasikmalaya untuk berkembang ke daerah lain di Indonesia. Saat ini, Siloka juga mulai memperluas ekspansinya dengan membuka cabang di Bandung.
Ruzaina menegaskan, inklusivitas diharapkan menjadi bagian dari identitas Siloka. Karena itu, Siloka tidak membatasi kolaborasi hanya berdasarkan usia maupun latar belakang.
“Kami tidak hanya ingin menyasar Gen Z atau milenial. Kami ingin berjalan bersama dan tidak menutup kemungkinan untuk berkolaborasi dengan individu maupun komunitas,” katanya.
Sementara itu, CEO Siloka, Arif Hidayat Putra, menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjalankan bisnis kedai kopi.
Menurut Arif, bisnis kopi tidak dapat berjalan sendirian. Dibutuhkan jejaring dan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan target serta mimpi yang lebih besar.
“Kedai kopi itu tidak bisa dijalankan sendiri. Bisnis itu kolaborasi untuk mencapai target dan mimpi yang lebih tinggi lagi, karena kopi itu hanya sebatas teman,” ujar Arif.
Melalui gathering tersebut, Siloka Grup berharap hubungan dengan media, KOL, influencer, serta komunitas di Tasikmalaya dapat semakin erat. Kolaborasi pun diharapkan terus berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan Siloka menuju pasar yang lebih luas.(***)







Comment