“Jika sarkasme menjadi isi utama kritik, maka kritik kehilangan identitas akademiknya. Publik membutuhkan data dan solusi, bukan sekadar kalimat yang paling tajam untuk menjadi viral,” tegasnya.
Aap juga mengingatkan bahwa mahasiswa dan akademisi memiliki peran strategis sebagai kelompok intelektual yang mampu menghadirkan kritik konstruktif berbasis riset dan kajian ilmiah. Dengan demikian, setiap kritik yang disampaikan dapat menjadi bagian dari solusi, bukan hanya menambah polemik di tengah masyarakat.
Fenomena kritik yang mengedepankan sensasi dibandingkan substansi, lanjutnya, berpotensi mengaburkan persoalan utama yang seharusnya menjadi fokus pembahasan publik. Oleh karena itu, ia berharap ruang demokrasi tetap diisi dengan diskusi yang sehat, argumentatif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.







Comment