Diky menilai, Kota Tasikmalaya memiliki akar sejarah dan kultur koperasi yang kuat. Karena itu, pengembangan koperasi di daerah ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan bagian dari identitas yang telah tumbuh sejak lama.
Ia mencontohkan, sebagaimana Tasikmalaya dikenal melahirkan tokoh-tokoh besar di berbagai bidang, semangat koperasi juga telah menjadi bagian penting dalam sejarah daerah.
“Kalau berbicara pengembangan koperasi di Kota Tasikmalaya, ini bukan hal baru. Bahkan penetapan Hari Koperasi yang diperingati setiap 12 Juli berangkat dari Kongres Koperasi pertama yang dilaksanakan di Kota Tasikmalaya. Tugu Koperasi juga berdiri di kota ini sebagai simbol sejarah tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut, Diky menyebut lahirnya kebijakan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih hingga berkembang menjadi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) juga memiliki keterkaitan dengan kondisi Kota Tasikmalaya yang secara administratif tidak memiliki desa.
Menurutnya, keberadaan kelurahan sebagai wilayah administratif di Kota Tasikmalaya menjadi salah satu alasan munculnya skema koperasi kelurahan yang kini menjadi bagian dari program nasional.
“Secara administratif Kota Tasikmalaya tidak memiliki desa, hanya kelurahan. Karena itu lahir konsep koperasi kelurahan yang menjadi bagian dari pengembangan program koperasi nasional. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Tasikmalaya,” pungkasnya. (Iqbal)







Comment