Menurut Diky, berbagai aktivitas seperti kerajinan tangan, budidaya ikan lele, peternakan ayam petelur hingga usaha ekonomi sederhana dapat menjadi pilihan bagi lansia yang masih ingin berkarya.
Bahkan, ia berharap semakin banyak dermawan yang bersedia membantu menyediakan sarana produksi bagi kelompok lansia sehingga mereka memiliki aktivitas yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi.
Meski demikian, Diky menegaskan bahwa produktivitas lansia tidak boleh menjadi tuntutan.
“Yang harus dituntut produktif itu anak-anak muda. Jangan sampai mengandalkan orang tua atau bergantung kepada orang lain. Lansia kalau masih produktif itu bonus, bukan kewajiban,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keberhasilan seorang lansia tidak diukur dari besarnya penghasilan, melainkan dari kemampuannya menjalani masa tua dengan sehat dan bahagia.
“Sehat saja itu sudah sebuah keberuntungan. Jangan kita terus menuntut orang tua harus begini atau begitu. Justru kita yang harus bergerak untuk mereka,” tuturnya.
Pemkot Prioritaskan Kemiskinan dan Persampahan
Diky juga mengungkapkan Pemerintah Kota Tasikmalaya berkomitmen menghadirkan lebih banyak ruang publik bagi berbagai komunitas, mulai dari lansia, pemuda, atlet hingga pekerja informal.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus menetapkan skala prioritas. Saat ini, fokus utama Pemkot Tasikmalaya masih diarahkan pada penanganan kemiskinan dan persoalan persampahan karena memiliki dampak luas terhadap berbagai sektor.
“Banyak kebutuhan masyarakat. Tapi saat ini fokus utama pemerintah adalah kemiskinan dan persampahan karena dampaknya sangat luas, mulai dari pengangguran, stunting sampai penggerakan ekonomi,” ujarnya.
Di akhir penyampaiannya, Diky mengajak generasi muda memanfaatkan masa produktif dengan sebaik-baiknya sebagai bekal menghadapi usia lanjut.
“Kalau melihat orang tua kita yang masih semangat berkumpul, berbagi, dan mengabdi, masa kita yang masih muda tidak produktif. Produktiflah wahai anak-anak muda sebelum bertemu masa tua,” pungkasnya.(***)




Comment