Tak hanya mengandalkan APBD, Pemkab Tasikmalaya juga menjalin kemitraan dengan lembaga kemanusiaan internasional. Saat ini usulan pembangunan sumur bor dari lima kecamatan telah diajukan kepada Qatar Charity dan beberapa lokasi telah memasuki tahap survei kelayakan.
Pemerintah berharap fasilitas sumur bor tersebut dapat mulai beroperasi sebelum maupun saat awal musim hujan yang diperkirakan tiba pada Oktober mendatang sehingga menjadi cadangan pasokan air saat musim kemarau kembali terjadi.
Antisipasi Bencana Saat Peralihan Musim
Memasuki strategi jangka panjang, Pemkab Tasikmalaya juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana saat transisi dari musim kemarau ke musim hujan.
Wakil Bupati meminta seluruh camat dan perangkat wilayah aktif melakukan pemantauan terhadap kondisi tanah yang berpotensi mengalami pergerakan akibat perubahan cuaca.
“Yang harus diwaspadai justru pasca atau awal musim hujan. Kondisi tanah yang gembur dan pecah-pecah akibat kemarau panjang sangat rentan ketika tertimpa air hujan. Para camat diminta keliling ke masyarakat untuk mengantisipasi bencana lingkungan,” tuturnya.
Gerakan Tanam Pohon dan Perlindungan Kawasan Resapan Air
Sebagai solusi fundamental, Pemkab Tasikmalaya akan menggalakkan gerakan penanaman pohon secara masif untuk menjaga daerah tangkapan air. Sekaligus mempertahankan Kabupaten Tasikmalaya sebagai salah satu daerah dengan tingkat polusi terendah di Indonesia.
Selain itu, pemerintah daerah juga akan menerbitkan surat imbauan serta memperkuat koordinasi dengan Perum Perhutani KPH Tasikmalaya dan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah VI Tasikmalaya melalui program Tasik Hejo.
Kolaborasi tersebut bertujuan menjaga kawasan hulu dan daerah resapan air dari kerusakan lingkungan. Sekaligus mencegah praktik penebangan pohon secara liar (illegal logging) yang dapat memperparah risiko kekeringan dan bencana ekologis di masa mendatang.


Comment