“Kalau saya simpulkan, manusia tidak luput dari kesalahan. Lalu berusaha menyembunyikan kesalahan itu dengan cara yang salah dalam menyelesaikan masalah,” katanya.
Menurutnya, seseorang pada akhirnya akan kalah oleh rasa lelah dan semakin keliru dalam menyikapi persoalan apabila tidak berani mengakui kesalahan yang telah diperbuat.
Karena itu, Diky mengajak masyarakat untuk menjadikan pesan yang disampaikan dalam pertunjukan tersebut sebagai bahan refleksi diri.
“Solusinya tentu dengan terus meminimalisir kesalahan, belajar mengakui kesalahan, sehingga setiap saat kita bisa memperbaiki diri,” tuturnya.
Ia berharap pagelaran Longser “Tamu Agung” tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur masyarakat. Tetapi juga menjadi tuntunan yang sarat nilai kehidupan.
“Semoga ada nilai-nilai yang bisa kita adopsi agar kita menjadi pribadi yang semakin baik ke depan,” pungkasnya.(***)




Comment