Berita Tasikmalaya, tasik.id – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya isu yang menyudutkan proyek rehabilitasi Daerah Irigasi (D.I.) Cikunten II sebagai penyebab utama berkurangnya pasokan air pertanian masyarakat. BBWS Citanduy menegaskan bahwa narasi yang diembuskan oleh pihak-pihak tertentu tersebut tidak komprehensif. Tidak melihat fakta hulu-hilir secara utuh, dan berpotensi mengaburkan tujuan mulia dari proyek strategis nasional ini.
Kepala BBWS Citanduy Roy Panagom Pardede, S.T., M.Tech. menyatakan bahwa penurunan debit air yang terjadi saat ini merupakan dampak akumulatif dari faktor alamiah musim kemarau dan kebutuhan teknis pengeringan berkala guna mempercepat rekonstruksi beton dinding saluran.
Langkah ini justru diambil demi menyelamatkan masa depan pertanian Kota/Kabupaten Tasikmalaya yang selama bertahun-tahun dihantui masalah kebocoran serta pendangkalan saluran irigasi.
Fakta di Lapangan: Bukan Penghentian Permanen, melainkan pengaturan teknis.
BBWS Citanduy meluruskan tiga poin krusial yang sengaja diputarbalikkan di media sosial:
Komitmen Pola Gilir (Rotasi) Air :
BBWS Citanduy tidak pernah menutup aliran air secara permanen. Bersama dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan tokoh masyarakat, telah disepakati sistem rotasi pengaliran air. Jadwal penutupan dilakukan secara terukur agar kontraktor dapat memperkokoh struktur dinding saluran utama, sementara pasokan ke hilir tetap diberikan haknya secara bergantian.
Faktor Penurunan Debit Alami:
Berdasarkan data hidrologi, Sungai Ciwulan dan Sungai Cimerah memang mengalami penyusutan debit akibat minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir. Menuduh proyek konstruksi sebagai pembuat keringnya air adalah kekeliruan logika, karena tanpa adanya proyek pun, debit air alamiah sedang menyusut.
Penertiban Oncoran Ilegal :
Pengurangan pasokan di beberapa titik hilir juga dipicu oleh maraknya pengambilan air secara ilegal (oncoran) di sepanjang saluran irigasi. Proyek rehabilitasi ini justru hadir untuk menata kembali sistem distribusi agar adil dan merata sampai ke ujung hilir.
Dampak nyata setelah proyek selesai Rehabilitasi D.I. Cikunten II ditargetkan untuk meningkatkan infrastruktur irigasi yang sudah usang. Melalui pengerukan sedimen lumpur dan pemasangan dinding beton baru, angka kehilangan air akibat rembesan tanah dapat ditekan seminimal mungkin.




Comment