Tarlan mencontohkan salah seorang ODHA yang telah terdiagnosis sejak 2006. Karena rutin mengonsumsi obat, kondisi orang tersebut hingga kini masih sehat dan bugar.
“Obat harus diminum rutin dan tepat waktu. Dengan begitu virus bisa ditekan, imunitas terjaga, dan kualitas hidup penderita tetap baik,” jelasnya.
Edukasi HIV/AIDS Menyasar Pelajar
Untuk mencegah munculnya kasus baru, KPAD Kota Tasikmalaya terus memperkuat sosialisasi dan edukasi mengenai HIV/AIDS.
Sosialisasi tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga pelajar di sekolah-sekolah.
Tarlan menyebut pendekatan secara personal menjadi salah satu metode yang dinilai lebih efektif dalam memberikan pemahaman mengenai HIV/AIDS.
“Pendekatan secara personal terbukti lebih efektif dibandingkan pembinaan secara kelompok. Saat bicara empat mata, mereka lebih terbuka dan mau menerima informasi,” katanya.
Selain pencegahan, KPAD juga menaruh perhatian terhadap persoalan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Menurut Tarlan, stigma masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan HIV/AIDS.
Tidak sedikit ODHA yang akhirnya enggan melakukan pemeriksaan maupun menjalani pengobatan karena khawatir mendapat perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitar.
Karena itu, KPAD berharap dukungan Pemerintah Kota Tasikmalaya, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga media dapat terus diperkuat.
KPAD juga mendorong agar layanan tes HIV, konseling, serta obat ARV tetap mudah diakses masyarakat melalui puskesmas maupun rumah sakit.
“Target kita bukan hanya menurunkan angka, tapi memastikan ODHA bisa hidup layak, produktif, dan tidak dikucilkan,” pungkas Tarlan.(iqbal)







Comment