News
Home » Berita » ION Networking dan Warga Cintarasa Bersatu dalam Ngaruat Simbol Nagara, Merawat Nasionalisme dari Kampung

ION Networking dan Warga Cintarasa Bersatu dalam Ngaruat Simbol Nagara, Merawat Nasionalisme dari Kampung

Anak-anak tidak hanya mendengar cerita tentang nasionalisme. Mereka menyaksikan orang tua dan generasi muda berdiri bersama dalam sebuah prosesi yang sarat makna.

Pesan yang ingin diwariskan sederhana: kemerdekaan yang telah diperjuangkan generasi terdahulu harus dirawat oleh generasi sekarang dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Satu Payung untuk Rakyat dan Negara

Puncak prosesi juga menghadirkan simbol yang dirancang panitia dengan makna khusus. Seluruh peserta akan berada di bawah payung bersama yang melibatkan Wali Kota Tasikmalaya, Camat Tawang, lima lurah, serta unsur TNI dan Polri.

Payung tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai pelindung dari panas atau hujan. Bagi panitia, payung merupakan simbol negara yang hadir untuk mengayomi masyarakat.

Di bawah payung yang sama, pemimpin dan warga ditempatkan dalam satu ruang simbolik. Tidak ada jarak antara pemerintah, aparat, dan masyarakat. Semuanya berada dalam satu naungan kebangsaan.

Ratusan Budayawan dan Para Raja Berkumpul di Kaki Galunggung, Ada Apa?

Pesan yang hendak disampaikan adalah bahwa menjaga kemerdekaan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau aparat keamanan.

Kemerdekaan adalah tanggung jawab bersama seluruh warga negara. Negara membutuhkan masyarakat yang aktif menjaga persatuan.

Sebaliknya, masyarakat membutuhkan negara yang hadir, melindungi, dan mengayomi seluruh warga tanpa membeda-bedakan.

Nasionalisme Dimulai dari Kampung

Pemilihan RW 01 Cintarasa sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Penyelenggara percaya bahwa nasionalisme tidak selalu harus dibangun melalui ruang-ruang besar. Nasionalisme justru dapat tumbuh dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat.

Kampung menjadi tempat seseorang pertama kali belajar hidup bersama. Di lingkungan kampung pula seseorang belajar menghargai tetangga, mengenal perbedaan, bergotong royong, membantu sesama dan membangun kepedulian sosial.

Putra Daerah asal Tasikmalaya Ripki Albabila Ukir Pretasi Internasional dan Nasional

Karena itu, ketika warga di tingkat RW mampu berkumpul dan merawat simbol negara secara bersama-sama, mereka sebenarnya sedang membangun Indonesia dari fondasi paling dasar. Indonesia yang besar dibangun dari lingkungan-lingkungan kecil yang masyarakatnya memiliki kepedulian terhadap sesama. Dari sinilah semangat gotong royong menjadi relevan.

Ngaruat, Filosofi Sunda untuk Merawat Kebangsaan

Istilah “Ngaruat Simbol Nagara” diambil dari filosofi budaya Sunda. Dalam pemaknaan tradisi Sunda, ngaruat berkaitan dengan ikhtiar membersihkan, memelihara, serta memohon keselamatan dan keberkahan agar terhindar dari berbagai keburukan. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan panitia dalam konteks kehidupan berbangsa.

Ngaruat tidak dimaknai sebagai ritual keagamaan ataupun pemujaan terhadap simbol negara, tetapi sebagai bahasa budaya untuk menyampaikan pesan moral. Melalui pendekatan tersebut, budaya lokal dan nasionalisme dipertemukan.

Budaya Sunda menjadi pintu masuk untuk membicarakan Indonesia. Pesannya adalah bagaimana masyarakat dapat menjaga kehormatan simbol negara sekaligus memperkuat persaudaraan, gotong royong, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air. Dengan cara itu, budaya tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan kebangsaan.

Sebaliknya, budaya dapat menjadi medium untuk memperkuat identitas dan rasa memiliki terhadap Indonesia. Ngaruat Budaya, Ruang Dialog tentang Identitas

HUT ke-81 RI, Viman Paparkan Capaian Pembangunan Kota Tasikmalaya

Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada prosesi Ngaruat Simbol Nagara yang dilaksanakan pada pagi hari. Pada kesempatan yang sama, masyarakat juga menggelar talk show bertajuk “Ngaruat Budaya”.

Talk show tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dengan latar belakang berbeda. Di antaranya Wakil Wali Kota Tasikmalaya sekaligus artis komedi Rd. Diky Chandra, Budayawan dan Seniman Kota Tasikmalaya Ashmansyah Timutiah, Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Riko Restu Wijaya, Ketua Forum Baraya Cintarasa Endang Roslana, serta aktivis sosial Harniwan Obech sebagai pemantik diskusi.

Kehadiran mereka membuat Ngaruat Budaya tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang percakapan mengenai hubungan antara budaya, masyarakat, pemerintahan, dan kehidupan kebangsaan.

Jika Ngaruat Simbol Nagara menggunakan bahasa simbol melalui air, Merah Putih, Garuda Pancasila dan payung, maka Ngaruat Budaya menggunakan bahasa dialog untuk membicarakan kembali bagaimana kebudayaan ditempatkan di tengah perubahan zaman.

Talk show tersebut juga memperluas pesan kegiatan. Nasionalisme tidak hanya berkaitan dengan simbol negara, tetapi juga bagaimana masyarakat mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Dari Cintarasa untuk Indonesia

Kegiatan yang digagas Karang Taruna Unit RW 01 Cintarasa bersama ION Networking itu pada akhirnya membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar peringatan HUT Kemerdekaan.

Ngaruat Simbol Nagara menjadi sebuah cara masyarakat akar rumput untuk memperingati kemerdekaan dengan pendekatan budaya.

Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, masyarakat diajak kembali melihat pentingnya kebersamaan.

Di tengah derasnya informasi dan perubahan teknologi, masyarakat diingatkan agar tidak kehilangan identitas. Dan di tengah potensi polarisasi sosial, warga diajak kembali kepada nilai persatuan.

Kemerdekaan, dalam perspektif penyelenggara, bukan hanya sesuatu yang dirayakan setiap 17 Agustus. Kemerdekaan harus dirawat setiap hari melalui perilaku.

Ia hadir ketika warga mau bergotong royong. Ia tumbuh ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh. Ia hidup ketika masyarakat masih peduli terhadap lingkungannya. Dan ia menjadi kuat ketika Pancasila tidak berhenti sebagai simbol, melainkan menjadi nilai yang dipraktikkan.

Dari lapangan sederhana di RW 01 Cintarasa, pesan itu kemudian menjadi refleksi bersama. Bahwa Indonesia yang besar tidak hanya dibangun dari gedung-gedung pemerintahan atau panggung-panggung kenegaraan. Indonesia juga dibangun dari kampung.

Dari warga yang mau berkumpul. Dari anak-anak yang belajar tentang sejarah. Dari orang tua yang mewariskan pengalaman. Dari pemuda yang bergerak.Dari komunitas yang bergotong royong. Dan dari dunia usaha yang bersedia hadir melalui kolaborasi sosial.

Melalui Ngaruat Simbol Nagara, Karang Taruna Unit RW 01 Cintarasa dan ION Networking ingin menegaskan bahwa menjaga Indonesia dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: merawat simbolnya, memahami nilainya, lalu menerjemahkan semangatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab Merah Putih tidak hanya untuk dikibarkan.Ia juga harus dijaga maknanya. Garuda Pancasila tidak hanya untuk dipasang.Nilai-nilainya harus dihidupkan.Dan kemerdekaan tidak hanya untuk dirayakan. Kemerdekaan harus terus dirawat oleh setiap generasi.

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HUT Ke 81 RI

error: Content is protected !!