Sekretaris KPAD Kota Tasikmalaya, Tarlan, menyebut pada 2024 terdapat 169 kasus baru. Jumlah tersebut turun menjadi 140 kasus pada 2025 dan hingga Agustus 2026 tercatat 80 kasus baru.
Meski mengalami penurunan, angka kumulatif HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya masih cukup tinggi. Sepanjang 2024, tercatat sebanyak 1.595 orang terinfeksi HIV/AIDS, dengan sekitar 400 orang di antaranya meninggal dunia.
Kasus HIV/AIDS juga masih didominasi laki-laki usia produktif, terutama kelompok usia 20-40 tahun. Berdasarkan data KPAD, sekitar 80 persen kasus ditemukan pada laki-laki.
Kelompok yang banyak teridentifikasi antara lain laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), waria, dan pekerja seks komersial (PSK).
Namun, penting dipahami bahwa HIV merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus HIV, bukan identitas atau orientasi seksual seseorang. Penularan HIV dapat terjadi melalui beberapa jalur, termasuk hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Kabar baiknya, KPAD menyebut penularan melalui penggunaan jarum suntik sudah tidak ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan hasil positif dari program pengurangan dampak buruk di kalangan pengguna narkotika dan zat adiktif.
HIV Bisa Dikendalikan dengan Pengobatan ARV
HIV hingga kini belum memiliki obat yang dapat menghilangkan virus dari tubuh secara tuntas. Namun, perkembangan pengobatan membuat HIV dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral atau ARV.
Dengan mengonsumsi ARV secara rutin dan sesuai anjuran tenaga kesehatan, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan sehingga sistem kekebalan tetap terjaga dan risiko penularan dapat dikurangi secara signifikan.
Karena itu, pemeriksaan HIV dan akses terhadap pengobatan menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS.
KPAD Kota Tasikmalaya pun terus mendorong agar layanan tes HIV, konseling dan pengobatan ARV mudah diakses masyarakat melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.
Selain pengobatan, edukasi juga menjadi kunci. Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih menjadi salah satu tantangan karena dapat membuat seseorang enggan melakukan tes maupun menjalani pengobatan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, KPAD, tenaga kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat dan berbagai unsur lainnya, upaya penanggulangan HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya diharapkan tidak hanya berorientasi pada penurunan angka kasus, tetapi juga memastikan ODHA dapat menjalani kehidupan secara layak, produktif dan tanpa diskriminasi.(iqbal)







Comment