“Ini bukan produk kelas dua. Faktanya buyer luar negeri justru berebut produk-produk lokal kita,” katanya.
Selain produk kerajinan, David juga mencontohkan produk olahan makanan seperti kentang mustofa yang berhasil menembus pasar Australia dan diminati konsumen luar negeri.
Saatnya Bangga dengan Produk Lokal
David menilai persoalan utama saat ini bukan pada kualitas produk Indonesia. Melainkan masih rendahnya kebanggaan masyarakat terhadap hasil karya dalam negeri.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai memberikan apresiasi lebih kepada produk lokal karena setiap pembelian produk UMKM secara langsung ikut menggerakkan roda perekonomian nasional.
“Kalau orang Italia, Jepang, sampai Saudi Arabia rela membayar mahal untuk produk Tasikmalaya, masa kita yang membuatnya justru gengsi menggunakannya?” ujar David.
Menurutnya, kebanggaan terhadap produk lokal bukan sekadar slogan nasionalisme, melainkan bentuk dukungan nyata terhadap pelaku usaha dan ekonomi daerah.
David berharap masyarakat mulai membiasakan diri untuk mempertimbangkan produk lokal sebelum memutuskan membeli produk impor. Dengan cara itu, pertumbuhan UMKM akan semakin kuat dan mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.
“Setiap kali membeli produk UMKM lokal, uang yang kita keluarkan akan berputar kembali di ekonomi negara sendiri, bukan mengalir ke brand luar negeri,” pungkasnya.(iqbal)







Comment