Sementara itu, Ketua Panitia, Jajang Kasrana, menyebut peluncuran tersebut sebagai panggung perdana pertunjukan kendang berskala besar di Tasikmalaya. Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menyediakan ruang silaturahmi sekaligus menjaga kreativitas para penabuh kendang.
Ketua Umum Kendangers Tasikmalaya, Ahmad Nasrudin atau yang akrab disapa Ahmad Greg, menjelaskan bahwa komunitas ini telah dirintis sejak tahun 2020 dengan nama Kendangers Singaparna sebelum berkembang menjadi Kendangers Tasikmalaya.
Saat ini, komunitas tersebut memiliki sekitar 300 anggota yang berasal dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya. Terdiri dari para perajin hingga pemain kendang profesional.
Mengusung filosofi “Hidup adalah Udunan”, Kendangers Tasikmalaya menekankan semangat gotong royong dan kebersamaan yang tercermin dalam jargon “Dulur Salembur Baraya Sadunya”.
Ke depan, komunitas ini akan menjalankan sejumlah program, di antaranya Kendanger Saba Lembur, Saba Sakola, dan Saba Komunitas. Program tersebut bertujuan untuk berbagi ilmu sekaligus memperkuat regenerasi seni kendang di tengah masyarakat.
Di sisi lain, Among Budaya Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Andri, menyatakan dukungannya agar kegiatan budaya seperti ini dapat diselenggarakan secara berkala. Ia berharap tidak hanya seni kendang dan jaipong yang mendapat ruang. Tetapi juga berbagai cabang seni lainnya sehingga gedung kesenian dapat hidup sebagai pusat aktivitas budaya di Kota Tasikmalaya.







Comment