“Saya mengajak seluruh masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa sampai orang tua, untuk membiasakan lagi budaya baca. Luangkan waktu 15 menit sehari untuk membaca. Dari situlah lahir generasi yang cerdas dan berkarakter,” tambahnya.
Konsep Jemput Bola
Sementara itu, Ketua Penyelenggara Out of the Boox, Agus, menjelaskan konsep kegiatan tersebut sengaja dibuat dengan sistem jemput bola. Buku-buku dibawa langsung ke ruang publik agar masyarakat dapat memperoleh akses bacaan tanpa harus pergi jauh ke toko buku.
“Kami ingin menghilangkan jarak antara buku dan pembaca. Di sini semua kalangan bisa datang, melihat langsung, memegang bukunya dan membeli dengan harga miring,” jelas Agus.
Beragam jenis buku tersedia dalam kegiatan tersebut, mulai dari buku anak, novel, agama, pendidikan hingga buku keterampilan.
Tak hanya penjualan buku, Out of the Boox juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung seperti diskusi ringan, bedah buku dan pojok baca gratis bagi anak-anak.
Pengunjung dapat bersantai sambil membaca buku di area yang telah disediakan panitia di Gedung Creative Center Dadaha.
Agus berharap selama tiga pekan ke depan, GCC Dadaha dapat menjadi ruang alternatif bagi masyarakat Tasikmalaya untuk kembali mendekatkan diri dengan buku.
“Target kami bukan hanya jualan. Tapi bagaimana setelah pulang dari sini, orang jadi punya satu buku baru di rumah dan kebiasaan membaca mulai tumbuh lagi,” pungkasnya.
Dengan harga buku yang terjangkau serta lokasi yang mudah diakses masyarakat, kegiatan Out of the Boox Buku Keliling 2026 diharapkan mampu menjadi pemantik tumbuhnya budaya membaca sekaligus komunitas-komunitas literasi baru di Kota Tasikmalaya.
Dalam Kesempatan itu, turut hadir Kadisporabudpar Kota Tasikmalaya, Deddy Mulyana, Perwakilan Dipusipda Kota Tasikmalaya, Pimpinan BJB Kota Tasikmalaya dan tamu undangan lainnya.(iqbal)


Comment