Salah satunya adalah pengetahuan mengenai cara menggunakan batik serta kemampuan untuk membedakan batik asli dengan produk yang bukan dibuat melalui proses membatik.
“Menurut saya pelestariannya belum terlalu banyak. Sebenarnya masyarakat itu mencintai batik, namun cara melestarikannya belum terlalu banyak, mulai dari cara pemakaiannya sampai cara mengetahui mana batik yang asli dan palsu,” katanya.
Putra Putri Batik Nusantara Bawa Misi Edukasi
Raya menjelaskan, Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara tidak hanya menjadi ajang untuk mencari figur yang dapat mempromosikan batik.
Ajang tersebut juga membawa misi edukasi kepada masyarakat mengenai batik, termasuk memperkenalkan proses pembuatannya dan memberikan pemahaman mengenai batik asli.
Salah satu bentuk pelestarian yang dilakukan yakni mengenalkan proses mencanting kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Jadi misinya mengedukasi tentang batik yang asli dan palsu. Salah satu pelestariannya melalui Putra Putri Batik Nusantara dengan proses mencanting,” jelas Raya.
Selain itu, upaya advokasi juga dilakukan melalui Canting Community, yang menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan dan menguatkan gerakan pelestarian budaya membatik.
Raya berharap keberadaan Putra Putri Batik Nusantara dapat semakin mendekatkan batik dengan generasi muda. Dengan demikian, batik tidak hanya dikenal sebagai produk fesyen. Tetapi juga dipahami sebagai warisan budaya yang memiliki proses, nilai dan sejarah.
Keterlibatan generasi muda dalam pelestarian batik diharapkan dapat memperluas pengenalan budaya Nusantara. Sekaligus mendorong anak muda tampil percaya diri sebagai generasi yang berprestasi dan berkarakter. (Iqbal)







Comment