“Teknologi dapat membuat kita bergerak lebih cepat, tetapi adablah yang menentukan ke mana langkah itu dibawa,” katanya.
Gebyar PAI Bukan Sekadar Ajang Perlombaan
Lebih lanjut, Diky menilai Gebyar PAI bukan hanya menjadi ajang untuk menentukan siapa yang keluar sebagai juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi para peserta.
Mulai dari belajar mempersiapkan diri, tampil di hadapan orang lain, menerima penilaian, mengakui keunggulan orang lain, hingga belajar meraih kemenangan dengan rendah hati.
“Belajar menang dengan rendah hati dan menerima kekalahan tanpa kehilangan semangat,” ungkapnya.
Menurut Diky, pengalaman tersebut penting dalam membentuk karakter generasi muda agar tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga memiliki sikap dan akhlak yang baik.
Generasi Qur’ani Harus Melek Teknologi
Gebyar PAI Vol. II juga dirangkaikan dengan seminar pendidikan yang membahas strategi membangun prestasi di era disrupsi digital.
Diky menilai tema tersebut sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini. Menurutnya, generasi Qur’ani tidak boleh menjauh dari perkembangan teknologi.
Sebaliknya, generasi Qur’ani harus mampu hadir dan memanfaatkan teknologi dengan membawa nilai-nilai positif, etika, kreativitas, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Generasi Qur’ani justru harus hadir di tengah teknologi dengan membawa nilai, etika, kreativitas, dan manfaat,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan pesan yang menjadi penutup sekaligus inti dari pentingnya keseimbangan antara ilmu, teknologi, dan nilai agama.
“Teknologi memberi kita kecepatan, tetapi Al-Qur’an memberi kita arah.”(iqbal)


Comment