Di balik kegembiraan tersebut, Diky juga mengaku sedikit sedih karena harus meninggalkan kegiatan lebih awal. Pasalnya, ia masih memiliki dua agenda lain yang harus dihadiri pada malam yang sama.
Meski demikian, ada satu hal yang membuatnya cukup takjub. Diky melihat anak-anak yang mengikuti kegiatan Magrib Mengaji masih cukup banyak, meskipun berada di tengah kawasan perkotaan.
“Saya juga cukup takjub, anak-anak Magrib Mengaji di dalam kota masih sebanyak itu dan mereka bermain kesenian angklung,” tuturnya.
Ia pun memberikan apresiasi kepada para pembimbing yang selama ini mendampingi anak-anak tersebut. Menurut Diky, keberadaan pembimbing memiliki peran penting dalam menjaga kegiatan keagamaan sekaligus mengembangkan kreativitas anak.
“Ibu pembimbingnya menurut saya cukup berhasil melakukan hal itu,” kata Diky.
Bagi Diky, perpaduan antara kegiatan keagamaan, seni dan kreativitas masyarakat menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan dari lingkungan paling dekat, termasuk melalui kegiatan warga di tingkat kelurahan.
Lapang Nusawangi pun malam itu bukan hanya menjadi tempat perayaan HUT ke-81 RI, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan kembali Diky Chandra dengan sejumlah kenangan lama sekaligus melihat langsung semangat warga Nagarawangi dalam mengisi kemerdekaan.


Comment