Diky juga berharap generasi muda semakin banyak yang tertarik mengenal budaya daerah. Anak-anak muda, kata dia, diharapkan tidak hanya menjadi penerus budaya, tetapi juga ikut menjaga alam dan kekayaan budaya Nusantara.
“Semoga ke depan lahir anak-anak muda yang peduli budaya dan menjadi penjaga alam dan budaya Nusantara, khususnya Jawa Barat,” ujarnya.
Paskibraka Kenakan Pakaian Adat
Keunikan upacara di Batu Mapar semakin terasa ketika barisan Paskibraka tampil tidak dengan seragam seperti upacara kenegaraan pada umumnya.
Para petugas mengenakan pakaian adat lengkap. Meski tampil dengan busana tradisional, kedisiplinan dan kekompakan barisan tetap terjaga.
Bendera Merah Putih pun berhasil dikibarkan dengan sempurna di tengah suasana kawasan kaki Gunung Galunggung yang dipenuhi para budayawan dan kasepuhan Jawa Barat.
Budayawan Sunda Anton Charliyan mengatakan, kegiatan tersebut menjadi ruang berkumpulnya para pelaku budaya, termasuk sejumlah kasepuhan dari berbagai daerah di Jawa Barat.
“Ini budayawan banyak hadir termasuk para kasepuhan di Jawa Barat,” kata Anton.
Menurut Anton, pelaksanaan upacara pada 18 Agustus bukan tanpa alasan. Pemilihan tanggal tersebut berkaitan dengan catatan sejarah awal kemerdekaan Indonesia.
Ia menjelaskan, 17 Agustus 1945 menjadi momentum pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan. Sementara upacara kenegaraan pertama disebut berlangsung pada 18 Agustus 1945.
“Kenapa tanggal 18 Agustus karena dulu upacara juga 18 Agustus di Manonjaya malahan. 17 Agustus itu Proklamasi dibacakan. Kita kenang lagi masa perjuangan dulu para pahlawan,” ujar Anton.
Bagi Anton, peringatan tersebut bukan sekadar menggelar upacara sehari setelah peringatan kemerdekaan. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi cara untuk mengikat kembali ingatan masyarakat terhadap sejarah perjuangan bangsa.
Ia berharap generasi muda memahami bahwa perjalanan kemerdekaan Indonesia memiliki sejumlah momentum penting yang tidak berhenti hanya pada tanggal 17 Agustus.
Dengan menghadirkan budaya lokal dalam upacara kemerdekaan, para budayawan ingin memastikan nilai sejarah, tradisi dan semangat perjuangan tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kegiatan di Batu Mapar pun menjadi gambaran bahwa perayaan kemerdekaan dapat dikemas melalui kekayaan budaya daerah, sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali identitas budaya Jawa Barat kepada generasi muda.(***)







Comment