Ia kemudian menyinggung posisi Kota Tasikmalaya sebagai Epicentrum Priangan yang menjadi salah satu titik temu masyarakat dari wilayah Priangan Timur.
“Ya dengan begitu, berbagai hal positif bisa terwujud. Namun, di sisi lain, hal negatif pun bisa muncul juga,” katanya.
Dialog dan FGD untuk Antisipasi HIV/AIDS
Sebagai langkah lanjutan, Diky mengatakan pemerintah daerah akan membuka ruang dialog melalui diskusi dan Focus Group Discussion (FGD) dengan kelompok tertentu.
Ia menekankan bahwa seluruh masyarakat Kota Tasikmalaya tetap memiliki kedudukan sebagai warga yang harus mendapatkan ruang komunikasi.
“Kita perlakukan semua warga Tasik sama. Jangan merasa sendiri,” ujar Diky.
Diky juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyampaian mengenai persoalan tersebut terdapat kesan menggurui.
“Dan maaf bila ada kesan menggurui di beberapa hal. Karena semua demi kebaikan kita bersama, agar kelak bila mudik ke akhirat ada bekal kebaikan yang bisa kita bawa ke sana,” katanya.
116 Kasus HIV/AIDS Tercatat hingga Agustus 2026
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya hingga Agustus 2026, tercatat 116 kasus HIV/AIDS.
Dalam data tersebut, penderita disebut mayoritas berasal dari kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL).
Data tersebut menjadi salah satu perhatian dalam upaya pencegahan dan penanganan HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya, termasuk melalui pemeriksaan HIV dan layanan infeksi menular seksual (IMS).
Melalui kegiatan MSM Mobile Clinics for HIV Testing and STI Service, pemerintah bersama tenaga kesehatan berupaya mendekatkan layanan pemeriksaan kepada kelompok yang memiliki risiko penularan HIV/AIDS.
Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong deteksi dini, meningkatkan akses layanan kesehatan, sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih baik antara pemerintah dan masyarakat.(**)








Comment