Salah satunya melalui pembentukan pusat atau titik pasar online di 10 kecamatan yang ada di Kota Tasikmalaya.
Konsep tersebut nantinya dapat dikembangkan sebagai semacam affiliate kecamatan yang memasarkan berbagai produk unggulan dari masing-masing wilayah.
“POT kecamatan bisa menjadi affiliate untuk semua produk yang ada di kecamatan sebagai perluasan pasar,” jelasnya.
Dengan konsep tersebut, produk lokal tidak hanya bergantung pada pembeli yang datang secara langsung, tetapi dapat dipasarkan melalui jaringan digital dengan jangkauan konsumen yang lebih luas.
Mendong Bisa Dikembangkan Jadi Beragam Produk
Diky juga mendorong agar mendong tidak hanya dipertahankan dalam bentuk produk konvensional seperti tikar.
Menurutnya, kreativitas dapat membuka berbagai kemungkinan baru. Mendong bisa dikembangkan menjadi sajadah, tas mukena hingga produk fesyen dan kerajinan lainnya.
Selain pengembangan produk, event khusus mendong juga dinilai dapat menjadi strategi promosi sekaligus membangun kembali kebanggaan masyarakat terhadap produk lokal.
Misalnya, menggelar kegiatan makan bersama dengan menggunakan tikar mendong terpanjang di Jalan HZ Mustofa atau membuat kegiatan doa bersama dengan menghadirkan karya mendong berukuran besar.
Kolaborasi dengan komunitas seni juga dinilai dapat membuka peluang baru.
Diky menyebut kemungkinan bekerja sama dengan Himpunan Perupa Tasikmalaya (Hipsik) untuk mengeksplorasi mendong sebagai media atau kanvas inovatif bagi karya seni.
“Mana tahu mendong bisa menjadi kanvas inovatif sebagai dasar lukisan-lukisan,” katanya.
Tidak berhenti di sana, mendong juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif lainnya, termasuk payung khas Tasikmalaya berbahan mendong.
Jangan Berhenti Berkreativitas
Diky menilai berbagai inovasi tersebut pada dasarnya merupakan bentuk pemanfaatan akal dan pengetahuan untuk menjawab persoalan yang ada.
Ia mengajak masyarakat tidak larut dalam keluhan mengenai kondisi bahan baku maupun pemasaran, tetapi terus mencari jalan keluar melalui kreativitas dan kolaborasi.
Menurutnya, kemampuan masyarakat pada masa lalu dalam menciptakan berbagai produk sederhana juga lahir dari proses berpikir dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
“Orang tua kita era dahulu bisa kepikiran bikin mendong, bikin padi jadi beras dan beras jadi nasi. Semua karena pemanfaatan akal yang lahir jadi ilmu hingga kita bisa beramal,” tuturnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi mendong Tasikmalaya harus dijawab dengan inovasi, pemasaran yang lebih luas, kolaborasi dan regenerasi pengrajin.
“Yang penting jangan mengeluh atas kondisi yang ada, tetapi terus bergerak cari solusi,” pungkasnya.(***)







Comment