Berita Tasikmalaya, tasik.id – Program normalisasi Sungai Cikunten yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy menuai keluhan dari Pondok Pesantren Salafiyah Al Muchtar Singarani, Kampung Cikadondong, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Muchtar, Ustaz Aceng Subhani, mengaku terkejut dengan adanya penutupan aliran air Sungai Cikunten yang menjadi sumber utama kebutuhan pesantren. Menurutnya, pihak pesantren tidak pernah menerima sosialisasi maupun koordinasi sebelumnya terkait pelaksanaan normalisasi sungai tersebut.
“Kami awalnya hanya mendengar pengumuman di masjid dan tiba-tiba air ditutup. Saya kaget karena tidak ada sosialisasi kepada pesantren, padahal kebutuhan air di sini 100 persen bergantung pada Sungai Cikunten,” ujar Aceng kepada tasik.id di kediamannya, Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan, air dari Sungai Cikunten selama ini digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kolam ikan, kebutuhan rumah tangga, hingga aktivitas santri sehari-hari. Akibat terhentinya aliran air, aktivitas di lingkungan pesantren mulai terganggu.
Menurut Aceng, dampak yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan oleh pesantren, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya dari kolam perikanan yang memanfaatkan aliran sungai tersebut.
“Pertanian bisa berubah menjadi lahan kering, kebun dan kolam ikan terancam. Kalau lembaga pesantren bagaimana? Harus ada tindak lanjut secepatnya dari BBWS untuk solusi bagi pihak yang terdampak,” katanya.
Ia menilai pembangunan yang bertujuan untuk kepentingan masyarakat tentu patut didukung. Namun demikian, pelaksanaannya harus memperhatikan kondisi warga dan lembaga yang terdampak secara langsung.
“Saya yakin pemerintah melakukan pembangunan untuk kemaslahatan masyarakat. Tetapi jangan sampai dalam pelaksanaannya menimbulkan mudarat bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada aliran sungai tersebut,” ungkapnya.
Kesulitan Pasokan Air
Aceng mengaku saat ini para santri mulai merasakan kesulitan akibat terbatasnya pasokan air. Kondisi tersebut membuat kenyamanan mereka dalam menjalani aktivitas belajar dan kehidupan sehari-hari di pesantren menjadi terganggu.







Comment