“Insha Allah bulan Agustus ini, disesuaikan dengan kondisi cuaca, akan ada penanaman pohon bambu. Ke depannya diharapkan menjadi semacam arboretum atau wisata pendidikan tentang perbambuan,” katanya.
Diky membayangkan kawasan tersebut nantinya dapat dilengkapi dengan berbagai aktivitas edukasi dan kreatif, seperti workshop pengolahan bambu hingga panggung pertunjukan yang menampilkan musik berbahan bambu.
“Diharapkan pula di sana ada workshop, ada panggung yang menampilkan atraksi musik dari bambu seperti angklung dan yang lainnya,” ujarnya.
Dorong Program Kreatif di Tengah Keterbatasan Fiskal
Di tengah kondisi fiskal daerah yang saat ini tidak mudah, Diky menilai pemerintah tetap harus kreatif dalam mencari solusi untuk mengembangkan sektor industri dan UMKM.
Ia mencontohkan pembinaan kepada pondok pesantren untuk mengembangkan keterampilan pembuatan mebel berbahan persampahan.
Menurut Diky, program tersebut dilaksanakan melalui dukungan masyarakat dan para aghnia, bukan menggunakan APBD.
“Kami harus sekreatif mungkin membuat suatu program. Sekarang ini ada pembinaan pesantren untuk pembuatan meubel dari persampahan. Pembinaan ini non-APBD, kami kumpulkan dari aghnia, bukan dari kepala dinas,” jelasnya.
Ia menilai kreativitas pimpinan daerah jangan sampai justru membuat kepala dinas mengalami kesulitan dalam menjalankan program karena keterbatasan anggaran.
Bidik Trade Expo Indonesia 2026
Selain penguatan industri kerajinan, Diky juga berharap produk unggulan Kota Tasikmalaya dapat memperoleh kesempatan tampil dalam ajang perdagangan berskala nasional dan internasional, termasuk Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.
Namun, keikutsertaan dalam berbagai event tersebut tetap harus mempertimbangkan kemampuan anggaran daerah.
Diky berharap dukungan dari sektor perbankan di Kota Tasikmalaya dapat ikut mendorong para pelaku usaha agar memiliki akses lebih luas terhadap berbagai kegiatan promosi dan pemasaran.
“Kota Tasikmalaya pun diharapkan dapat ikut di event Trade Expo Indonesia 2026 selama anggaran ada. Mudah-mudahan perbankan yang ada di Kota Tasikmalaya bisa membantu karena kondisi fiskal kita sedang tidak baik-baik saja,” tuturnya.
Diky menegaskan, setiap peluang untuk memperkenalkan produk unggulan daerah akan tetap diikuti sepanjang memiliki sumber pembiayaan yang jelas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita ikuti setiap kegiatan apapun selama anggaran ada karena keberkahan yang kita butuhkan. Percuma kita ikuti setiap event, tapi kalau sumbernya tidak jelas tidak akan manfaat,” tegas Diky.
Roadshow HIMKI tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi pemerintah dan pelaku industri. Sekaligus membuka peluang bagi produk mebel dan kerajinan Priangan, khususnya anyaman dan bambu, untuk semakin kompetitif di pasar global.(iqbal)


Comment