Ia membandingkan kebiasaan menulis pada masa lalu dengan kondisi saat ini yang semakin mudah karena adanya komputer dan fitur copy paste.
“Dulu orang tua kita pakai mesin tik. Jadi kalau salah, harus baca dan ketik ulang. Tapi hari ini copy paste, tinggal hapus saja gampang di komputer,” kata Diky.
Karena itu, Diky meminta para siswa tetap membiasakan diri membaca serta menulis dengan tangan. Menurutnya, aktivitas tersebut tetap penting di tengah perkembangan teknologi.
Antologi Puisi Diharapkan Jadi Pemantik Literasi
Diky berharap buku Antologi Puisi yang menjadi karya bersama guru dan murid MTsN 3 Kota Tasikmalaya tidak hanya menjadi dokumentasi karya, tetapi juga mampu memicu gerakan literasi di lingkungan sekolah.
Ia berharap lahir lebih banyak siswa yang berani menuangkan gagasan melalui tulisan dan karya sastra.
“Semoga menjadi pemantik bagi yang lain untuk mulai membaca dan menulis,” katanya.
Kegiatan seminar dan peluncuran buku Antologi Puisi tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Kota Tasikmalaya Gilman Mawardi, perwakilan Kantor Kementerian Agama, serta Branch Manager BSI Kota Tasikmalaya.(***)








Comment