Semangat tersebut sejalan dengan motivasi Ajeng untuk membawa pengalaman pesantren ke ruang global, belajar dari keberagaman perspektif, membangun jejaring, serta menjadi representasi santri yang adaptif dan berwawasan luas.
Membawa Semangat Putri Nusantara
Dengan perjalanan pendidikan, pengalaman seni, berbagai prestasi, serta kesempatan menuju forum internasional, Ajeng membawa semangat seperti Putri Nusantara —bukan sebagai gelar formal, melainkan sebagai gambaran perempuan muda Indonesia yang berusaha memperkenalkan identitas bangsanya melalui ilmu, karya, sikap, dan kreativitas.
Baginya, budaya Indonesia tidak cukup hanya dikenang. Budaya perlu dipahami, dijaga, dikembangkan, dan diperkenalkan dengan cara yang dapat diterima generasi masa kini.
Karena itu, ketika Ajeng melangkah ke ruang internasional, ia tidak hanya membawa nama dirinya.
Ia membawa cerita tentang pesantren.
Dirinya membawa semangat generasi muda.
Ia membawa karya dan kreativitas.
Dan ia membawa nilai-nilai Nusantara yang tumbuh dalam dirinya selama bertahun-tahun.
Dari Manonjaya untuk Dunia
Perjalanan Ajeng menjadi gambaran bahwa seorang santri dapat berkembang dalam banyak bidang tanpa harus kehilangan identitasnya.
Pendidikan dan keagamaan menjadi fondasi. Seni menjadi ruang ekspresi. Olahraga menjadi ruang ketangguhan. Kompetisi menjadi ruang pembelajaran. Sementara dunia internasional menjadi ruang untuk berbagi dan memperkenalkan identitas Indonesia.
Dari perjalanan panjang di pesantren hingga kesempatan menuju forum internasional, Ajeng Kholifah terus membawa satu keyakinan: generasi muda Indonesia tidak harus memilih antara menjadi religius atau menjadi global.
Keduanya dapat berjalan bersama.
”Kita boleh melangkah sejauh mungkin ke dunia global, tetapi jangan sampai lupa dari mana kita berasal.” jelasnya.
Dari pesantren di Manonjaya, Ajeng kini bersiap melangkah lebih jauh—membawa ilmu, karya, nilai agama, dan semangat budaya Nusantara. Berakar secara lokal, berwawasan global, dan membawa Indonesia untuk dikenal dunia.



Comment