Berita Tasikmalaya, tasik.id — Di tengah arus globalisasi yang semakin cepat, ada generasi muda yang memilih untuk tidak meninggalkan akar budayanya. Salah satunya adalah Ajeng Kholifah santriwati yang telah menempuh perjalanan pendidikan pesantren selama kurang lebih 13 tahun dan kini terus mengembangkan diri di berbagai bidang.
Bagi Ajeng, menjadi santri bukan berarti hanya berkutat pada pendidikan agama. Pesantren justru menjadi fondasi untuk belajar, berkarya, berkomunikasi, berkompetisi, sekaligus mengenal nilai dan budaya yang melekat pada identitas Indonesia.
Kini, Ajeng menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Pusat Manonjaya, Tasikmalaya. Perjalanannya telah melewati beberapa lingkungan pendidikan pesantren, mulai dari pembelajaran tahfiz Al-Qur’an dan bahasa hingga tradisi keilmuan salafi dan kajian kitab kuning.
Perjalanan tersebut membentuk Ajeng menjadi sosok muda dengan beragam kemampuan. Ia aktif dalam tahfiz Al-Qur’an, kajian kitab dan fikih, Bahtsul Masail, pidato, dakwah, debat, cerdas cermat, serta berbagai kegiatan kreatif dan kompetitif Ia juga mengikuti kegiatan Bahtsul Masail ,dan mengikuti Daurah Alqur’an Sanad Syekh Jamil Yamani dan Simaan Alfiyyah Ibnu Malik 1.002 bait,
Dari Pesantren, Tumbuh Menjadi Sosok Multitalenta
Potensi Ajeng tidak berhenti di ruang kajian. Ia juga tumbuh sebagai seniman muda yang menekuni kaligrafi, melukis, desain grafis, fotografi, videografi, dan kegiatan pentas seni.
Berbagai pencapaian telah diraihnya dalam bidang pendidikan, keagamaan, seni, komunikasi, dan kreativitas. Pengalamannya mencakup kompetisi kaligrafi, pidato, MHQ, dakwah, debat, cerdas cermat, desain grafis, melukis, hingga berbagai kegiatan seni lainnya.
Di bidang olahraga pun Ajeng aktif mengikuti berbagai kegiatan dan kompetisi. Pengalamannya antara lain dalam badminton, voli, serta kegiatan olahraga lainnya, yang menjadi bagian dari proses pembentukan kedisiplinan, ketangguhan, sportivitas, dan kemampuan bekerja sama.
Deretan pengalaman tersebut membuat perjalanan Ajeng tidak berjalan pada satu jalur. Ia belajar agama, mengasah intelektualitas, berbicara di depan publik, berkarya melalui seni, dan mengembangkan diri melalui berbagai aktivitas kompetitif.
Agama dan Globalisasi Tidak Harus Berseberangan
Di tengah kekhawatiran bahwa globalisasi dapat membuat generasi muda semakin jauh dari akar budaya dan nilai keagamaannya, Ajeng justru melihat keduanya dapat berjalan beriringan.
“Bagi saya, menjadi santri bukan berarti membatasi diri dari dunia. Justru ilmu dan nilai yang diperoleh di pesantren menjadi bekal untuk menghadapi dunia dengan tetap membawa identitas dan nilai yang kita miliki.”
Menurut Ajeng, generasi muda perlu memiliki wawasan global tanpa kehilangan jati diri. Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, menurut semangat yang ia bawa, harus berjalan bersama dengan kecintaan terhadap agama, budaya, dan nilai-nilai lokal.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika Ajeng bersiap memasuki ruang internasional.
Membawa Cerita Pesantren ke Dunia
Ajeng dinyatakan lulus sebagai peserta International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 7 yang dijadwalkan berlangsung di Malaysia, Singapura, dan Thailand pada 25–30 November 2026.
Kesempatan tersebut menjadi lebih dari sekadar perjalanan ke luar negeri. Ajeng ingin menjadikannya sebagai ruang untuk bertukar perspektif, membangun jejaring, dan memperkenalkan kemampuan generasi santri kepada masyarakat yang lebih luas.
“Saya ingin menunjukkan bahwa santri mampu berkomunikasi, berkolaborasi, berprestasi, dan berkontribusi. Kita bisa mengikuti perkembangan global tanpa harus kehilangan akar pesantren dan budaya Indonesia.” Kata Ajeng pada tasik.id secara ekslusif.



Comment