Berita Tasikmalaya, tasik.id – Kota Tasikmalaya kembali menunjukkan identitasnya sebagai Kota Santri. Keberadaan pondok pesantren tidak hanya berada di kawasan pinggiran, tetapi juga tumbuh di tengah pusat kota, bahkan berada di lingkungan permukiman dan gang.
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra, saat menghadiri Haul KH Momon (alm.). Pimpinan Pondok Pesantren Madaarisul ‘Uluum yang berlokasi di Jalan Cihideung Balong No. 50, Kelurahan Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.
Diky Chandra menyebut keberadaan pesantren di tengah perkotaan menjadi sesuatu yang menarik. Sekaligus memiliki nilai sejarah dan perjuangan dalam menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
“Sebetulnya jarang sekali ada pesantren di tengah kota, kemudian masuk gang,” ujar Diky Chandra.
Sejarah Belanda Terhadap Pesantren
Dalam kesempatan tersebut, Diky juga menyinggung sejarah perjuangan pesantren pada masa penjajahan Belanda. Menurutnya, keberadaan pesantren kala itu menjadi salah satu kekuatan masyarakat yang diperhitungkan oleh penjajah.
“Dulu penjajah Belanda sangat takut dengan kehadiran pesantren sehingga mereka menggeser pesantren itu sendiri. Artinya, penjajah bisa setakut itu,” katanya.
Diky kemudian menyampaikan filosofi mengenai pentingnya kekompakan dalam membangun kebaikan. Ia menilai kebaikan yang tidak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kelompok yang memiliki organisasi dan kekompakan.
“Karena saya mempunyai filosofi, kejahatan terorganisir akan sangat mudah menghancurkan kebaikan yang tidak terorganisir,” ungkapnya.
Ia menggambarkan, ketika terdapat 100 orang baik tetapi tidak memiliki kesatuan, sementara hanya ada 10 orang yang tidak baik namun terorganisir, maka kelompok yang lebih kecil dapat memiliki kekuatan lebih besar.


Comment