“Audiens sekarang mendapatkan informasi dari banyak sumber, bukan hanya media. Ada kreator, komunitas, media sosial, dan berbagai platform digital. Karena itu, media perlu terus beradaptasi dan mencari bentuk kolaborasi yang relevan dengan perubahan tersebut,” ungkap Yogi.
Ia menilai kolaborasi antara media arus utama dan konten kreator justru dapat menciptakan pola distribusi informasi yang lebih efektif.
Media memiliki pengalaman dalam jurnalistik dan pengelolaan informasi, sedangkan kreator mempunyai kedekatan dengan audiens dan komunitas.
“Ketika keduanya berkolaborasi, ada banyak kemungkinan formula dan distribusi konten yang bisa dikembangkan untuk membangun informasi digital yang berkelanjutan,” paparnya.
Industri Event Jadi Bagian dari Ekosistem Ekonomi Kreatif
Perspektif lain disampaikan Sekjen DPP Industri Event Indonesia (IVENDO), Evan Saepul Rohman. Ia menilai industri event tidak dapat berjalan sendiri karena memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor dalam rantai ekonomi kreatif.
“Event tidak berdiri sendiri, ada media, kreator, brand, venue, komunitas, UMKM, dan berbagai industri pendukung lainnya. Kalau semuanya terhubung, nilai ekonomi dan dampak yang dihasilkan juga bisa semakin meyakinkan,” ujar Evan.
Ia mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mengurangi ego sektoral dan membangun kolaborasi yang berkelanjutan.
“Kita tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Justru kekuatan industri kreatif ada pada kemampuan untuk menggabungkan berbagai kompetensi menjadi satu kolaborasi demi menghasilkan kesuksesan yang maksimal,” tegasnya.
Kreator Dituntut Lebih Profesional
Sementara itu, Influencer Gen Creator Hub, Ova Nova, mengingatkan para konten kreator agar tidak hanya mengandalkan jumlah pengikut ketika memasuki dunia industri.
Menurutnya, kreator juga perlu memahami kebutuhan brand, menghasilkan konten berkualitas serta mampu bekerja secara profesional.
“Pelaku konten kreator sekarang tidak cukup hanya memiliki followers. Kreator perlu memahami kebutuhan brand, mampu membuat konten yang berkualitas, dan bekerja secara profesional,” ujarnya.
Ova menyambut positif kehadiran platform yang dapat mempertemukan kreator dengan brand dan membuka akses terhadap peluang bisnis.
“Brand membutuhkan kreator yang profesional, sementara kreator membutuhkan akses terhadap peluang usaha. Karena itu, keberadaan platform yang bisa mempertemukan keduanya menjadi penting,” imbuhnya.
Dengan semakin berkembangnya media, kreator, komunitas digital, pelaku usaha dan industri event, Kota Tasikmalaya dinilai memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai simpul ekonomi kreatif dan digital di Priangan Timur.
Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci agar potensi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang mampu membuka akses pasar, memperluas jaringan serta menciptakan peluang ekonomi baru.(***)



Comment