Namun, potensi tersebut dinilai belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih terbatasnya SDM yang menguasai teknologi dan sains terapan.
Problem Based Learning
Karena itu, Cecep meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya menyesuaikan. Sekaligus memperkuat standar kurikulum agar mampu menumbuhkan ketertarikan anak terhadap bidang STEM sejak usia dini.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, Wandi Herpiandi, menjelaskan bahwa pendekatan STEM mengintegrasikan lima disiplin ilmu untuk melatih nalar, logika. Dan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari.
Menurut Wandi, proses pembelajaran tidak cukup hanya membuat siswa memahami teori. Peserta didik juga perlu memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan tersebut menjadi karya atau produk yang memiliki nilai guna.
“Tujuan utamanya adalah melatih nalar anak-anak agar terbiasa mencari solusi dari berbagai permasalahan dengan menghasilkan suatu produk. Melalui pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning). Anak-anak diberikan ruang untuk bertanya, mencoba, bahkan berbuat salah untuk kemudian berefleksi,” kata Wandi.
Ia menambahkan, penguatan pembelajaran STEM juga menjadi bagian dari strategi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya untuk meningkatkan capaian Rapor Pendidikan. Terutama pada aspek literasi, numerasi, dan penguatan karakter siswa.
Untuk mendukung target tersebut, dinas menyiapkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan berkala serta mempercepat penerapan pembelajaran berbasis masalah di ruang kelas.
Melalui penguatan pendekatan STEM, Pemkab Tasikmalaya berharap peserta didik tidak hanya menguasai teori. Tetapi juga mampu berpikir kritis, menghasilkan inovasi, dan mengembangkan solusi atas berbagai persoalan dengan memanfaatkan potensi daerah.











Comment