Istigasah yang menjadi bagian dari kegiatan itu juga dimaknai sebagai ikhtiar spiritual yang harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai keagamaan, menurut Bubung, perlu diwujudkan melalui kepedulian terhadap persoalan masyarakat dan keberanian menyampaikan masukan demi perbaikan daerah.
“Cinta terhadap kota bukan berarti kita harus diam terhadap persoalan yang ada. Justru karena peduli, kita perlu berani bertanya, mengkritisi, dan memberikan masukan agar pembangunan berjalan lebih baik. Kota Santri harus menjadi kebanggaan karena nilai-nilainya benar-benar hidup di tengah masyarakat,” tambah Bubung.
GP Ansor berharap refleksi Hari Santri dapat menjadi pengingat bahwa pembangunan Kota Tasikmalaya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah, organisasi kepemudaan, komunitas, pesantren, akademisi, dan masyarakat sipil perlu membangun komunikasi serta kolaborasi agar kebijakan yang dihasilkan semakin responsif terhadap persoalan dan kebutuhan warga.
Pada akhirnya, predikat Kota Santri tidak hanya ditentukan oleh kuatnya identitas keagamaan yang ditampilkan. Tetapi juga oleh kemampuan daerah menerjemahkan nilai-nilai kesantrian menjadi keadilan sosial, kesejahteraan, dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.(***)











Comment