News
Home » Berita » Gagasan Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Muncul di Peringatan Nuzulul Quran Kota Tasikmalaya

Gagasan Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Muncul di Peringatan Nuzulul Quran Kota Tasikmalaya

Berita Tasikmalaya, tasik.id – Sebuah gagasan menarik muncul dalam Peringatan Nuzulul Quran tingkat Kota Tasikmalaya yang digelar di Masjid Agung Kota Tasikmalaya pada Jumat malam (6/3/2026).

Acara tersebut dihadiri jajaran Forkopimda serta pimpinan daerah, termasuk Viman Alfarizi Ramadhan selaku Wali Kota Tasikmalaya yang didampingi Sekretaris Daerah Asep Goparulloh beserta jajaran Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Dalam kesempatan tersebut, mubaligh KH Zamzam Imadudin menyampaikan ceramah yang dinilai relevan dengan identitas Tasikmalaya sebagai Kota Santri. Ia mengaitkan ceramahnya dengan program prioritas Pemkot Tasikmalaya, yakni Ohan Hafidz (One Kelurahan One Hafidz) yang mendorong lahirnya para penghafal Al-Qur’an di setiap kelurahan.

Inspirasi dari Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an

Dalam tausiyahnya, KH Zamzam menjelaskan sejarah kodifikasi atau pembukuan Al-Qur’an pada masa sahabat. Ia menuturkan bahwa Umar bin Khattab menjadi penggagas utama pengumpulan Al-Qur’an pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Gagasan tersebut muncul setelah banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam Perang Yamamah. Umar khawatir ayat-ayat Al-Qur’an hilang jika tidak segera dikodifikasi.

Hadirkan Syekh Palestina, SMA Al Muttaqin Cetak Generasi Muda Peduli Sosial dan Siap Masuk Ekosistem Dunia

Awalnya usulan itu sempat ditolak oleh Abu Bakar. Namun karena kegigihan Umar, akhirnya khalifah menyetujui dan menunjuk Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan wahyu dari berbagai media seperti pelepah kurma, batu, serta hafalan para sahabat.

Usulan Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an

Dari kisah sejarah tersebut, KH Zamzam mengusulkan agar program Ohan Hafidz tidak hanya fokus pada penghafal Al-Qur’an, tetapi juga melahirkan penulis Al-Qur’an melalui kaligrafi.

Ia mengusulkan pendirian pesantren khusus kaligrafi Al-Qur’an di Tasikmalaya. Menurutnya, di era digital saat ini perlu ada keseimbangan antara penghafal dan penulis mushaf Al-Qur’an.

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!