Berita Tasikmalaya, tasik.id – Istilah child grooming kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah sebelumnya disorot melalui sebuah buku karya aktris nasional berjudul Broken String. Isu tersebut kini mencuat di Tasikmalaya, menyusul viralnya konten seorang kreator yang diduga melibatkan anak di bawah umur.
Konten tersebut ramai diperbincangkan di platform X (sebelumnya Twitter) melalui akun @dyanasthasia, yang mengunggah sebuah video berisi tantangan kepada dua pelajar SMA untuk menjadi “pacar selama satu jam”. Video itu sontak menuai reaksi luas dari warganet dan telah ditonton lebih dari 4,6 juta kali.
Dalam unggahan lanjutan, akun X bernama Zara mengaku bahwa salah satu pelajar dalam video tersebut merupakan adiknya dengan inisial J. Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi secara tidak disengaja saat J pulang sekolah dan sedang jajan di minimarket bersama teman-temannya.
“Awalnya bukan ‘jadi pacar satu jam’, tapi disebut ‘diculik satu jam’. J mengira akan dibawa bersama temannya, ternyata dia sendiri,” tulis Zara dalam klarifikasinya.
Kakak Inisial J Speak Up di X
Zara juga mengungkapkan bahwa J sempat menghubunginya saat bertemu dengan konten kreator tersebut. J disebut merasa antusias karena kreator itu cukup dikenal di kota mereka. Namun saat proses pembuatan konten, J memilih jajanan seadanya agar cepat selesai dan mengaku merasa tidak nyaman setelahnya.
Setelah video tersebut diunggah ke TikTok dan Instagram, J disebut enggan menonton ulang konten tersebut. Kondisi semakin memburuk ketika video itu viral dan menuai beragam komentar negatif yang menyudutkan J. Akibat banyaknya hujatan, kolom komentar akhirnya dinonaktifkan oleh kreator, sebelum konten tersebut kemudian di-take down.
“J itu belum genap 17 tahun. Tolong jangan hujat dia. Saya sakit hati baca komentar-komentar sebelum dinonaktifkan,” tulis Zara, seraya menyebut J sebagai pribadi introvert dan kurang percaya diri.
Zara menegaskan bahwa klarifikasi ini disampaikan semata-mata untuk meluruskan informasi agar J tidak terus menjadi sasaran hujatan publik. Ia juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak psikologis dan jejak digital yang sulit dihapus.




Comment