News
Home » Berita » Saat Terima Kunjungan Mahasiswa S2, Wawali Diky Dorong Mendong Tasikmalaya Bangkit, Perluas Pasar hingga Go Internasional

Saat Terima Kunjungan Mahasiswa S2, Wawali Diky Dorong Mendong Tasikmalaya Bangkit, Perluas Pasar hingga Go Internasional

Berita Tasikmalaya, tasik.id – Kerajinan mendong yang pernah menjadi salah satu identitas produk unggulan Tasikmalaya kini menghadapi tantangan serius. Mulai dari semakin terbatasnya bahan baku, minimnya regenerasi pengrajin, hingga persoalan pemasaran menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dicarikan solusi.

Hal tersebut menjadi perhatian Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra saat menerima kunjungan silaturahmi mahasiswa S2 Universitas Siliwangi seusai menghadiri kegiatan Demode Artist Management, Minggu.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda tambahan di tengah padatnya aktivitas Wakil Wali Kota Tasikmalaya pada hari libur. Dalam sehari, Diky menghadiri empat undangan masyarakat, dengan tiga kegiatan berlangsung sejak pagi hingga siang dan satu agenda pada malam hari.

Mahasiswa S2 Universitas Siliwangi tersebut datang untuk berdiskusi mengenai kerajinan mendong Tasikmalaya yang menjadi bahan capstone project R&D International Business School.

Dalam diskusi itu terungkap bahwa produksi mendong saat ini justru lebih banyak berkembang di Yogyakarta. Padahal, kawasan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, pada masa lalu dikenal sebagai salah satu sentra penghasil dan pengolah mendong.

Didepan Wawali Diky Chandra, Warga Cikalang Girang Dorong Wilayahnya Jadi Kampung Budaya Kota Tasikmalaya

Diky mengakui kondisi tersebut dan menilai perlu ada langkah nyata agar mendong kembali memiliki tempat sebagai bagian dari kekuatan ekonomi kreatif Kota Tasikmalaya.

Menurutnya, pengembangan UMKM, baik yang berbasis produk budaya lama maupun produk baru, tidak cukup hanya dengan menghasilkan barang. Yang tidak kalah penting adalah memastikan pasar bagi produk tersebut.

“Untuk UMKM, baik produk budaya lama ataupun yang baru, harus ada jaminan pasar,” ujar Diky.

Ia menyebut, upaya membawa produk mendong ke pasar yang lebih luas sebenarnya sudah mulai dilakukan. Bahkan, terdapat salah satu instansi pemerintah pusat yang telah membantu mendorong produk mendong agar mampu menembus pasar internasional.

Bahan Baku Mendong Semakin Tergerus

Persoalan lain yang dihadapi industri mendong adalah ketersediaan bahan baku.

Pamit Kerjakan Skripsi, Mahasiswi Asal Taraju Tasikmalaya Tak Kunjung Pulang

Tanaman yang menjadi sumber bahan baku mendong kini semakin tergerus oleh pembangunan. Akibatnya, bahan baku untuk memenuhi kebutuhan produksi semakin sulit diperoleh.

Bahkan, muncul informasi bahwa untuk mendapatkan bahan baku mendong, pelaku usaha di Kota Tasikmalaya harus mendatangkannya dari luar daerah.

Kondisi tersebut, kata Diky, memang tidak ideal. Namun, keterbatasan bahan baku bukan berarti kreativitas harus berhenti.

“Memang kondisinya tidak ideal, tetapi bukan berarti kita harus berhenti berkreativitas,” katanya.

Diky juga menyoroti persoalan regenerasi pengrajin mendong. Sebagian besar pengrajin yang masih bertahan saat ini sudah berusia lanjut.

Satu Satunya Se Jabar! Dekranasda Kota Tasikmalaya Tampil di FESPIN XIII, Bawa Payung Geulis Menuju Pasar Dunia

Menurutnya, minimnya regenerasi bisa berkaitan dengan berbagai faktor, salah satunya pasar yang belum luas serta kurangnya inovasi terhadap produk mendong.

“Para pengrajin mendong kebanyakan sudah sepuh. Bisa jadi tidak adanya regenerasi ini merupakan dampak dari kurang luasnya pemasaran dan kreativitas terhadap produk mendong,” ungkapnya.

Dorong Pasar Online Berbasis Kecamatan

Untuk memperluas pemasaran, Diky membuka gagasan agar pemerintah ikut membangun ekosistem pemasaran digital yang lebih dekat dengan pelaku UMKM.

Pages: 1 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Muktamar NU

HUT Ke 81 RI

error: Content is protected !!