“Di kegiatan ini pun pihak PASI sendiri terlihat juga melibatkan anak muda untuk ikut memeriahkannya. Berarti ada regenerasi dan perkenalan budaya ke generasi muda,” katanya.
Diky menambahkan, pelestarian budaya lokal perlu terus diperkuat di tengah arus globalisasi yang turut membawa berbagai pengaruh budaya dari luar.
“Menurut saya, pentingnya menjaga dan melestarikan budaya lokal di tengah arus globalisasi,” ucapnya.
Ia mengakui bahwa perkembangan fashion dari berbagai budaya luar tidak dapat dihindari. Namun, budaya lokal juga perlu memiliki daya saing agar tidak hanya bertahan di negeri sendiri, tetapi mampu dikenal hingga mancanegara.
“Kita memang tidak bisa menolak invasi fashion dari budaya luar. Namun, budaya kita harus mampu mengimbangi dan bahkan menguasai di negeri sendiri, serta berupaya untuk menginvasi ke luar negeri,” tuturnya.
Batik Tasikmalaya Punya Potensi Ekonomi Kreatif
Selain menjadi bagian dari identitas budaya lokal, sinjang batik Tasikmalaya juga memiliki potensi ekonomi kreatif yang terus dikembangkan.
Produk batik Tasikmalaya tidak hanya digunakan dalam berbagai kegiatan budaya dan busana tradisional, tetapi juga telah menjangkau pasar internasional.
Melalui kegiatan Pasanggiri Pinton Anggon Kabaya Sunda Sinjang Batik Tasikan, masyarakat diharapkan semakin mengenal dan mengapresiasi warisan budaya daerah.
“Acara Pasanggiri Pinton Anggon Kabaya Sunda-Sinjang Batik Tasikan. Diharapkan dapat memperkuat eksistensi budaya lokal dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya yang dimiliki,” ungkap Diky.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan busana tradisional Sunda serta mendukung keberlanjutan batik Tasikmalaya sebagai bagian dari identitas dan potensi ekonomi kreatif daerah.(***)

Comment