“Setiap biaya kuliah dan biaya hidup yang saya terima adalah uang publik. Itu menjadi utang moral saya kepada masyarakat,” tegasnya.
Godaan Berkarier di Luar Negeri
Karim mengakui, godaan untuk menetap di luar negeri dan bahkan mengganti kewarganegaraan tentu ada. Fasilitas pelayanan publik yang baik, jaminan kesehatan, sistem transportasi, hingga peluang karier yang luas menjadi daya tarik tersendiri.
“Siapa yang tidak tergoda? Tapi saya selalu bertanya pada diri sendiri, setelah semua ini, apa yang akan saya lakukan untuk membayar semua kepercayaan itu?” tuturnya.
Memilih Kembali dan Mengabdi
Akhirnya, Karim memutuskan untuk pulang dan membangun kontribusi di tanah air. Meski sempat diliputi keraguan, ia berpegang pada satu prinsip: negara telah memberi kesempatan untuk belajar dan berkembang, maka saatnya mengaplikasikan ilmu, koneksi, serta pengalaman tersebut untuk Indonesia.
Ia juga mengajak para penerima beasiswa lainnya untuk bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan pilihan.
“Jika hati mempertimbangkan hal lain, itu pilihan masing-masing. Namun mari saling mengingatkan tanpa merendahkan negara sendiri,” pesannya.
Membangun Indonesia Bisa dari Mana Saja
Karim menutup pesannya dengan sebuah nasihat yang pernah ia terima: membangun Indonesia tidak selalu harus dimaknai secara fisik semata. Di manapun berada, yang terpenting adalah hati dan pikiran tetap tumbuh untuk Indonesia.
“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Negara ini butuh kita semua,” pungkasnya.
Isu beasiswa LPDP dan komitmen penerimanya kini menjadi perbincangan publik. Namun, kisah Abdul Karim dari Tasikmalaya ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap fasilitas negara, terdapat tanggung jawab moral untuk berkontribusi bagi masa depan bangsa.







Comment