“Kalau jarang ada kejuaraan, wasit dan juri bisa bingung. Padahal setiap tahun ada upgrade aturan. Dengan seringnya event, mereka lebih paham regulasi terbaru,” tambahnya.
Ketua Koni Kota Tasikmalaya Anton Suherlan menambahkan langkah awal yang baik di awal tahun ini. Apalagi ada rencana ada liga berjenjang dan berkepanjangan
“Kunci untuk mendapatkan prestasi itu ada di pembinaan dan kejuaraan. Untuk persiapan pada perhelatan kejuaraan yang lebih besar seperti porprov.” Singkatnya.
Target Prestasi dan Dukungan Pemerintah
Arif menegaskan, seluruh program pembinaan bermuara pada prestasi. Ia mencatat adanya peningkatan signifikan jumlah kelas pertandingan, dari sebelumnya empat kelas menjadi delapan kelas aktif—hampir naik 100 persen.
“Buat apa kalau tidak ada prestasi? Harus ada hasil supaya dilihat pemerintah kota. Cabor sekarang banyak, persaingan ketat. Kita harus menunjukkan capaian,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Diky Candra, menilai kejuaraan seperti Tasik Series memiliki dampak lebih luas dari sekadar olahraga. Menurutnya, event olahraga dapat menjadi penggerak ekonomi daerah.
“Ini yang dibutuhkan Kota Tasik. Kita harus jadi kota event yang mampu menggerakkan perekonomian lewat kunjungan peserta dan official,” ujarnya.
Dengan ratusan peserta dan official dari berbagai daerah di Jawa Barat, Tasik Series Beraksi Championship 2026 bukan hanya arena adu teknik dan mental para pesilat. Lebih dari itu, ajang ini menjadi titik temu pembinaan atlet, peningkatan kualitas wasit dan juri, serta strategi menjadikan olahraga sebagai motor ekonomi Kota Tasikmalaya.
Di atas gelanggang, para pesilat bertarung membawa nama paguron. Di luar arena, Kota Tasikmalaya tengah menguji diri sebagai tuan rumah yang menata prestasi sekaligus menggerakkan roda ekonomi daerah.






Comment