Ia juga menyinggung fenomena konten kreator yang viral sebelum matang secara mental. Kondisi tersebut kerap memunculkan star syndrome, merasa memiliki kekuasaan besar, hingga sulit menerima kritik, baik dari lingkungan terdekat maupun dari followers.
“Ini saya alami sendiri dulu. Saat merasa di atas angin, kontrol diri jadi sangat penting,” ujarnya.
Dari sisi followers, Kang Yudi menilai banyak yang mulai memuja konten kreator dengan jutaan pengikut layaknya selebritas, tanpa lagi melihat nilai atau value dari konten yang disajikan. Kebanggaan bisa tampil satu frame atau diajak kolaborasi seringkali mengalahkan logika kritis.
Di akhir pesannya, Kang Yudi memberikan saran tegas kepada para konten kreator agar selalu jujur dan tidak mendewakan jumlah followers, FYP, maupun tayangan semata.
“Perkuat personal branding dan nikmati prosesnya. Saya cuma punya 113 ribu followers, tapi endorse sebulan bisa lebih dari 30 brand. Artinya saya bisa syuting hampir setiap hari,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan agar tidak merugikan brand dengan followers hasil ketidakjujuran. Menurut keyakinannya, penghasilan yang didapat dari cara tersebut merupakan hal yang tidak dibenarkan.(iqbal)




Comment