“Perbedaan jangan dijadikan laknat, tapi rahmat. Harapannya, kebersamaan umat Islam, khususnya di Kota Tasikmalaya, semakin kuat setelah Ramadan,” katanya.
Madrasah Ramadhan
Dalam khutbahnya, Ayi Mubarok mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan berakhirnya ibadah puasa Ramadan, melainkan momentum refleksi diri setelah menjalani “madrasah Ramadan”.
“Hari ini hari kemenangan. Tapi pertanyaannya, apakah kita benar-benar keluar dari Ramadan sebagai pribadi yang lebih baik? Apakah hati kita lebih bersih, akhlak lebih baik, dan lebih dekat kepada Allah?” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa esensi kemenangan Idul Fitri terletak pada perubahan sikap dan peningkatan kualitas ketakwaan, bukan sekadar euforia seremonial.
“Ramadan melatih kita menahan hawa nafsu, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama. Tujuan akhirnya adalah menjadi insan bertakwa, yang tercermin dalam perilaku sehari-hari,” jelasnya.
Pelaksanaan Salat Idul Fitri keluarga besar Muhammadiyah di Kota Tasikmalaya berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Meski terdapat perbedaan waktu perayaan Idul Fitri dengan sebagian umat Islam lainnya, suasana tetap berjalan damai dan saling menghormati.
Pesan yang disampaikan dalam khutbah pun menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak perlu terus dibesar-besarkan, apalagi sampai menenggelamkan makna kemenangan dan kebersamaan di hari yang fitri.








Comment