“Cukup doakan saya. Tidak ada yang lebih bermanfaat dari doa tulus orang-orang yang ikhlas,” katanya.
Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kota Tasikmalaya karena pada hari libur tersebut tidak dapat menghadiri sejumlah agenda kota. Meski demikian, ia berharap ketidakhadirannya tidak mengurangi keberkahan bagi semua pihak.
Refleksi dan Harapan
Dalam refleksi pribadinya, Diky mengaku kerap khawatir dituding melakukan pencitraan. Namun menurutnya, keterbukaan sikap penting agar para pemimpin tidak gelap mata ketika memiliki kekuasaan. Ia mengenang masa saat bertugas di Garut, ketika tanpa sorotan media ia terbiasa berjalan kaki, naik angkutan umum, hingga mengurus kebutuhan pribadi tanpa ajudan.
“Bukan untuk pencitraan. Saya hanya ingin tidak mati rasa,” ujarnya.
Melalui perjalanan hidupnya, termasuk masa-masa sulit saat menjabat dan setelah mundur dari jabatan sebelumnya, Diky berharap semakin banyak orang berani menjalani kebenaran meski terasa pahit.
“Ujian pasti banyak. Saya juga tidak tahu akan selalu kuat atau tidak. Tapi semua saya jalani saja,” ucapnya penuh harap.
Lamaran sederhana tersebut bukan hanya menjadi langkah awal menuju pernikahan sang putra, tetapi juga cerminan nilai yang terus dijaga: kejujuran, kesahajaan, dan tanggung jawab moral seorang pemimpin kepada masyarakat Tasikmalaya.(iqbal)






Comment