“Narasi semacam itu terlalu terburu-buru dan berpotensi membangun stigma negatif terhadap gerakan mahasiswa. Di sisi lain, adanya korban luka dari pihak mahasiswa PMII harus menjadi bahan evaluasi serius terhadap SOP pengamanan di lapangan,” tegasnya.
Media Diminta Fokus pada Substansi
Selain itu, IKA PMII menghimbau rekan-rekan media agar tetap menjalankan fungsi edukasi publik dan tidak terjebak pada sensasi semata. Myftah menegaskan, isu utama yang harus dikedepankan adalah evaluasi kinerja Wali Kota Tasikmalaya.
“Media adalah pilar demokrasi. Jangan sampai isu insiden fisik seperti ‘baju robek’ justru menenggelamkan poin-poin kritis mahasiswa terkait rapor merah kinerja dan persoalan pembangunan di Kota Tasikmalaya,” katanya.
Dorong Dialog Terbuka dan Bermartabat
Sebagai penutup, IKA PMII Kota Tasikmalaya mengajak Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk segera membuka ruang dialog terbuka dan bermartabat dengan mahasiswa PMII. Evaluasi, kata Myftah, merupakan hal yang wajar dan menyehatkan bagi demokrasi.
“Mahasiswa PMII adalah aset kritis daerah. Kami berharap Wali Kota segera membuka ruang audiensi untuk menjawab tuntutan mahasiswa agar persoalan ini tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan publik. Utamakan diskusi daripada menghindar, karena memimpin kota bukan soal lari maraton,” pungkasnya.




Comment