Tak hanya dari sisi artistik, Diky juga menilai pesan yang disampaikan dalam cerita teater tersebut sangat mendalam dan relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Menurutnya, pertunjukan itu mengajarkan tentang pentingnya memiliki sikap khusnudzon serta memilih menjadi orang yang “pintar merasa” daripada sekadar “merasa pintar”.
“Kadang ketika seseorang merasa pintar, pembangunan dan peningkatan ekonomi terus digenjot tanpa memikirkan dampak terhadap alam, budaya, dan kultur masyarakat. Yang penting uang,” ujarnya.
Sebaliknya, kata Diky, orang yang pintar merasa akan tetap memikirkan pembangunan ekonomi. Namun tidak mengorbankan nilai-nilai lain seperti adat, lingkungan, dan keseimbangan sosial.
“Inilah yang dibutuhkan oleh kita semua, orang-orang yang pintar merasa. Yang tetap memikirkan pertumbuhan ekonomi tanpa harus menghilangkan fungsi-fungsi lainnya,” pungkasnya.







Comment