Dengan jejaring trayek seluas itu, wajar jika muncul anggapan bahwa Primajasa telah menjadi penguasa jalur Priangan–Jakarta.
Polemik “Nostalgia” Bupati
Perbincangan mencuat ketika muncul pemberitaan berjudul “Pulang Naik Bus Budiman, Bupati Tasikmalaya Seperti Nostalgia!”. Dalam narasi tersebut, Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, disebut memilih menggunakan PO Budiman dalam perjalanan pulang.
Hal ini memunculkan spekulasi publik. Apakah sekadar nostalgia, mengingat latar belakang kuliahnya di Bandung? Ataukah ada simbol politik tertentu di balik pilihan moda transportasi tersebut?
Dalam pemberitaan juga disebutkan Bupati melanjutkan perjalanan menggunakan Whoosh dari Tegalluar ke Halim, sebelum menuju Depok. Jika melihat pola perjalanan, sejumlah pihak menilai terdapat alternatif moda yang lebih efisien, seperti integrasi LRT dan KRL menuju Depok, yang dinilai lebih hemat biaya dan waktu di tengah kepadatan lalu lintas sore hari menuju kawasan tersebut.
Namun demikian, pilihan transportasi tentu menjadi hak pribadi setiap individu, termasuk kepala daerah. Narasi “nostalgia” bisa dimaknai sebagai kedekatan emosional dengan pengalaman masa lalu, tanpa harus ditarik ke ranah politik yang lebih jauh.
Transportasi dan Simbol Politik
Di Tasikmalaya, transportasi bukan sekadar bisnis. Ia tumbuh menjadi identitas daerah sekaligus simbol kekuatan ekonomi keluarga-keluarga besar. Ketika para pelaku industri ini masuk ke gelanggang politik, publik tentu tak bisa dilepaskan dari berbagai tafsir.
Apakah ini sekadar romantisme perjalanan lama? Ataukah publik sedang membaca simbol “check out” dari poros tertentu?
Yang jelas, dinamika antara bisnis transportasi dan politik lokal Tasikmalaya masih akan terus menarik untuk dicermati.(iqbal)







Comment