Ia menilai kontribusi kreatif yang telah ia berikan sejak awal tidak mendapatkan apresiasi yang layak. Upaya komunikasi dan konsultasi dengan sejumlah pihak, termasuk pengurus, disebutnya tidak membuahkan hasil hingga hari ini.
Bus Ngulisik sendiri diketahui merupakan aset milik pemerintah yang kemudian diserahkan pengelolaannya kepada Organda, dengan melibatkan komunitas maupun pihak ketiga. Namun menurut Rian, skema pengelolaan tersebut tidak seharusnya mengabaikan hak kreator.
“Saya hanya berharap ada penghargaan atas apa yang sudah saya kerjakan, jangan terkesan cuek dan lepas tangan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pada tahap awal, Bus Ngulisik dibangun dengan semangat gotong royong dan keikhlasan demi menghadirkan daya tarik wisata bagi Kota Tasikmalaya. Namun seiring berjalannya waktu dan berubahnya status menjadi komersial, menurutnya sudah sepantasnya ada bentuk apresiasi yang jelas.
“Bertahun-tahun terlibat, satu-satunya yang pernah saya terima waktu itu hanya uang makan harian untuk buka puasa,” pungkas Rian.



Comment