Abdul Aziz menegaskan, audiensi bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari fungsi kontrol sosial mahasiswa terhadap jalannya pemerintahan daerah. Namun, absennya wali kota justru dinilai sebagai bentuk penghindaran dialog.
“Kalau ruang audiensi saja tak dibuka, bagaimana rakyat mau menyampaikan suara? Balai kota jangan sampai berubah jadi benteng sunyi dari kritik,” sindirnya.
PMII Kota Tasikmalaya memastikan tidak akan berhenti pada satu kali kedatangan. Mereka berencana kembali mendatangi Balai Kota Tasikmalaya dengan agenda lanjutan dan menuntut kehadiran langsung wali kota.
“Kami akan datang lagi dengan giat yang lain. Kami ingin memastikan wali kota bisa hadir dan mendengar aspirasi dari kita semua,” kata Abdul Aziz.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen PMII untuk terus mengawal kebijakan pemerintah daerah agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat Kota Tasikmalaya.
“Salam pergerakan. Kritik tidak boleh diparkir, apalagi dikunci rapat,” pungkasnya.(iqbal)




Comment