Ketiga, dampak hoaks yang dapat memicu provokasi, mengganggu stabilitas sosial, serta berdampak pada kesehatan mental generasi muda.
Strategi Pemerataan Literasi Digital
Untuk menciptakan literasi digital yang inklusif dan merata, Husein menekankan perlunya pendekatan sistemik melalui tiga pilar utama.
Pertama, integrasi kurikulum nasional, dengan memasukkan materi kecakapan digital sejak pendidikan dasar hingga menengah. Literasi tidak hanya sebatas membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan membedakan fakta, opini, dan satire.
Kedua, aktivasi komunitas lokal, melalui peran relawan literasi dan pembentukan Pojok Baca Digital di daerah pelosok. Tokoh pemuda setempat diharapkan menjadi agen edukasi, termasuk dalam memahami cara kerja algoritma media sosial.
Ketiga, pemanfaatan infrastruktur teknologi informasi, dengan memastikan akses internet yang merata serta diiringi kampanye literasi digital yang masif. Melalui platform yang digemari generasi muda seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, dengan konten edukatif namun tetap menarik.
Mekanisme Proteksi Diri Generasi Muda
Selain peran pemerintah dan komunitas, Husein juga menekankan pentingnya kesadaran individu generasi muda dalam menyaring informasi. Ia menyarankan metode sederhana sebagai bentuk proteksi diri, yakni cek sumber untuk memastikan kredibilitas media, cek fakta dengan membandingkan informasi ke situs verifikasi resmi, serta cek bias dengan mengenali muatan emosional berlebihan yang kerap menjadi ciri konten provokatif.
Literasi Senjata Lawan Hoaks
Sebagai penutup, Husein Fadlulloh menegaskan bahwa literasi digital merupakan senjata utama dalam melawan hoaks. Pemerataan literasi ke seluruh penjuru Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tugas bersama seluruh elemen bangsa.
“Dengan generasi muda yang cerdas literasi, informasi tidak lagi menjadi alat provokasi, melainkan sarana inovasi demi kemajuan bangsa yang berdaulat di ruang digital,” pungkasnya.




Comment