Ciamis, tasik.id – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Ciamis pada 13 Februari 2026 menyebabkan peningkatan debit dan muka air Sungai Ciputrahaji secara signifikan. Kondisi tersebut berdampak pada kerusakan bangunan pengaman tebing berupa pasangan bronjong yang mengalami pergeseran (sliding).
Akibat derasnya arus, struktur bronjong mengalami perubahan posisi horizontal dari kondisi semula. Di lapangan, terlihat kemiringan dinding serta deformasi pada susunan kawat bronjong yang menandakan hilangnya kestabilan konstruksi.
Humas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, Rahmat, menjelaskan bahwa berdasarkan data pos curah hujan Sidamulih, intensitas hujan pada 9 Februari 2026 tercatat 107,5 mm per hari dengan kategori hujan sangat lebat. Kemudian pada 10 Februari 2026 sebesar 54,5 mm per hari (hujan lebat), dan 13 Februari 2026 sebesar 53 mm per hari (hujan lebat).
Sementara itu, di pos hujan Cikupa, curah hujan pada 9 Februari 2026 tercatat 63,5 mm per hari (hujan lebat), dan pada 13 Februari 2026 sebesar 43,2 mm per hari (hujan lebat).
Lonjakan debit air tersebut menyebabkan Sungai Ciputrahaji meluap hingga menimbulkan genangan di sekitar area konstruksi. Dampaknya, stabilitas pasangan bronjong yang telah terpasang terganggu.
Hasil Peninjauan Teknis
Berdasarkan hasil identifikasi visual tim teknis di lapangan, ditemukan sejumlah kerusakan di antaranya:
Bronjong bergeser ke arah hilir mengikuti alur sungai.
Terjadi kemiringan struktur akibat kehilangan kestabilan.
Indikasi gerusan (scouring) pada bagian kaki atau dasar bronjong.
Penurunan (amblas) pasangan bronjong sepanjang kurang lebih 16 meter.
Pergeseran elevasi serta ketidakstabilan pada segmen terdampak.
Indikasi erosi dan pelunakan tanah di bagian kaki konstruksi.
Analisis Penyebab Kerusakan
Secara teknis, kerusakan dipicu oleh kombinasi faktor hidrologi, geoteknik, serta gaya hidrodinamis.






Comment